Jumat adalah nama salah satu hari yang dianggap paling sakral. Kalau mendengar kata Jumat, yang terbayang di kepala kita adalah keagungan, kesucian. Hari yang lain dari pada yang lain. Maka sebagai orang yang terlahir dihari Jumat, saya merasa bahagia. Kebetulan saya lahir hari Jumat menjelang fajar. Maka dikeluarga, kadang disebut sebagai anak fajar. Saat fajar adalah saat hening, dimana matahari bersiap untuk melakukan tugasnya memberi cahaya ke penjuru semesta. Untung saya tidak pula disebut sebagai anak matahari.
Bagi umat tertentu, Jumat memiliki makna tersendiri. Makna kesucian, keagungan dan keimanan. Bagi umat Muslim, Jumat dianggap sebagai hari Akbar. Hari besar. Saat itu umat Muslim khususnya laki-laki, diwajibkan untuk shalat di Mesjid. Bagi umat Nasrani, ada istilah Jumat Agung. Biasanya saat perayaan Paskah. Hari kematian Jesus Of Chrits. Tentu bagi umat beragama, Jumat tidak sebatas dua hal diatas. Ada banyak makna yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Karena saya tidak bermaksud membahas hari Jumat hanya dari sisi religiusitas. Sebab ada fenomena lain yang juga berkaitan dengan ritual Jumat. Yang agaknya lebih mendominasi dalam kehidupan masyarakat kita. Bahkan mungkin sudah lama mendunia. Suatu kontradiksi antara nuansa spiritual religi dengan fenomena mistisisme. Coba kita perhatikan acara-acara di televisi. Tiap kali menjelang hari Jumat, yang menonjol bukan lagi acara yang sifatnya religi spiritual. Tapi kebalikannya. Acara yang penuh kesan menakutkan. Dimulai dari film horror, sinetron yang penuh mistik, sampai acara reality semacam dunia lain, dan sebangsanya. Acara-acara jenis ini begitu mendominasi justru di malam Jumat. Malam agung yang menurut para rohaniwan, seharusnya diisi dengan acara-acara yang sifatnya religi.Tapi yang terjadi, malam Jumat adalah Friday th13. Malam penuh kemistisan. Sering kita dengar orang-orang dengan misi tertentu melakukan ritual malam Jumat dengan berendam di pertemuan dua arus sungai. Atau melakukan panggilan roh-roh dengan niat tertentu yang berbau mistis. Tentu berbeda ya dengan ritual agama atau suku tertentu yang memang memiliki tradisi yang merupakan bagian dari ritual agamanya atau sukunya. Jadi tentunya kita harus membedakan mana yang datang dari tradisi agama atau suku, dengan hal-hal yang sekedar menakut-nakuti masyarakat.
Dalam tradisi suku Jawa dan Sunda, ada istilah Jumat Kliwon. Hal ini erat kaitannya dengan tradisi yang sudah turun temurun. Lewat searching di wikipedia dan google, saya baru tahu tentang makna Jumat Kliwon sebenarnya, bagi sebagian masyarakat Jawa atau Sunda. Kedua suku itu selama ini memang dikenal sebagai salah satu suku yang sangat kental dengan tradisi Jumat Kliwonnya. Berikut sedikit cuplikan yang saya kutip.
“Kliwon adalah nama hari dalam sepasar atau juga disebut dengan nama pancawara, minggu yang terdiri dari lima hari dan dipakai dalam budaya Jawa dan Bali. Hari Selasa-Kliwon dinamakan hari AnggaraKasih dan dianggap sebuah hari yang istimewa dalam budaya Jawa dan Bali. Lalu oleh Orang Jawa, terutama hari malam Jumat Kliwon dianggap hari yang keramat (wikipedia)
Hal ini terkait dengan tradisi puasa selama 40 hari yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta yang puncak puasanya terjadi pada hari Jumat Kliwon maupun Selasa Kliwon. “Jika orang dahulu itu berpuasa selama 40 hari dan puncak puasa yang berakhir pada malam Jumat kliwon, namun orang saat ini hanya mengambil tiga hari puasa untuk mewakili 40 hari puasanya mulai hari Rabu Wage, Kamis Pon dan puncaknya pada malam Jumat Kliwon,” kata RP Suraksotarwono, Juru Kunci sekaligus sesepuh warga di Pantai Parangsumo.Di masyarakat Jawa sendiri, hari yang dianggap keramat berbeda-beda tergantung daerahnya. Seperti masyarakat di kawasan Jawa Tengah ada yang menganggap malam Jumat Wage adalah har yang dikeramatkan dan masih banyak lagi daerah-daerah yang punya hari yang dianggap keramat (artikelindonesia.com)
Sayangnya bagi sebagian masyarakat kita, Jumat kliwon sudah terlanjur identik dengan Jumat berhantu. Mungkin sama dengan tradisi Halloween pada 31 Oktober di Amerika. Hanya saja kita tidak merayakannya dengan kostum seram sebagai sebuah permainan. Tapi cukup lewat acara-acara ditelevisi, baik lokal maupun non lokal. Maka sekarang ini yang terjadi adalah, orang menjadi alergi bila mendengar kata-kata Jumat Kliwon. Kesannya menakutkan. Saya sendiri lebih sering mematikan televisi kalau malam Jumat tiba. Karena isinya memang tak jauh dari hal-hal yang menegangkan. Televisi lebih banyakmenyuguhkan acara yang sesuai dengan persepsi masyarakat jaman sekarang tentang malam Jumat. Mungkin sebagai media kapitalis, televisi hanya bermaksud mengadopnya lewat tayangan, tanpa memikirkan dampaknya. Saya sendiri, bukan termasuk orang yang punya keberanian melihat hal-hal yang mengerikan.
Film legendaris, Jack The Ripper misalnya, yang pernah saya tonton sendirian pas malam Jumat, hasil provokasi teman. Katanya, kalau nontonnya di hari lain, nuansanya beda, tidak setegang kalau malam Jumat. Padahal saya yakin, di hari lain pun perasaan saya pasti sama tegangnya, karena sudah membuat tak bisa tidur. Film dengan banyak darah selalu membuat saya sedikit fobia. Heran juga mengapa saya jadi penasaran saat itu. Meskipun begitu, mungkin suatu saat saya tidak anti juga untuk sesekali belajar menulis fiksi yang agak sedikit thriller ;). Konon, di radiopun acara sandiwara yang pernah digemari masyarakat, setiap malam Jumat akan diputar yang seram dan mengerikan. Bahkan saya pernah menemukan stasiun radio, yang setiap malam Jumat diisi dengan pengalaman menakutkan para audiensnya. Mereka bercerita tentang pengalaman bertemu hantu, kuntilanak, dedemit, genderuwo, tuyul dan sebagainya. Karena penyakit penasaran saya kumat, maka saya sempatkan diri mencoba mendengarkan sampai tuntas.
Jujur saja, saya sempat berfikir, benarkah yang diceritakan orang-orang tsb? Atau hanya khayalan dan karangan mereka agar bisa sharing dikarenakan iseng? Entahlah, yang jelas para pendengar radio itu bercerita dengan penuh keyakinan, dan tentu saja membuat perasaan saya terkejut. Lalu sayapun berjanji untuk tidak pernah lagi mendengarkan acara seperti itu. Karena jujur saja, sempat membuat saya merinding. Esoknya, saya telefon dua orang teman semasa SMA yang kebetulan dikenal alim. Ingin tahu apa yang biasa dikerjakannya dimalam Jumat? apa tidak ikut berburu hantu seperti di televisi? goda saya. Teman saya tertawa. Menurutnya, tiap malam Jumat biasanya diisi dengan pengajian. Baik sendirian atau di Mesjid ikut ibunya.Teman saya seorang Muslim. Lalu teman lainnya yang beragama Nasrani mengaku, dia selalu kontempasi dalam hening. Berdoa untuk Tuhan. Mungkin tidak selalu rutin, tapi nampaknya sudah menjadi kebiasaan mereka berdua dalam mengisi malam agungnya. Memilih mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta.
Kalau saya lebih memilih untuk membaca saja seperti hari lainnya. Sedangkan beberapa teman lainnya yang hobi menonton film seram, tetap berikrar untuk mengisi adrenalin mereka dengan sesuatu yang menegangkan hati. Apalagi kalau bukan menonton acara-acara horror di televisi? Menurutnya hidup ini harus seimbang. Sesekali melatih keberanian mental dengan cara murah meriah. Tidakmelulu berdoa atau mendengarkan khotbah. Hmm..berhubung saya sedikit penakut, mending baca aja deh.
Bagi para kompasioner, apa yang anda lakukan tadi malam? Kebetulan semalam saya sengaja berhenti membaca buku dulu, dan memilih untuk membaca catatan teman. Lalu tiba-tiba terinspirasi soal fenomena kontradiksinya malam Jumat. Sebenarnya siapa lagi yang menjadikan hari Jumat penuh keagungan itu, menjadi hari penuh misteri, selain karena salah persepsi kita sendiri? Sekarang, saya jadi agak enggan kalau ditanya tentang hari kelahiran. Kalau mengaku hari Jumat, biasanya mereka akan bertanya lagi. Kliwon atau Legi? Dan saya cuma tersenyum. Fikiran saya bertanya-tanya, jangan-jangan akan dikaitkan dengan segala sesuatu yang berbau mistik. Mungkin ini efek cerita yang selama ini berkembang dimasyarakat kita. Hingga malam Jumat tidak lagi dipersepsikan sebatas hal-hal yang bernuansa religius, atau sebatas tradisi dalam masyarakat Jawa Sunda lewat ritual Jumat kliwonnya yang sudah dianggap merupakan bagian dari salah satu akar budaya bangsa. Tapi Jumat sekarang ini lebih banyak dipersepsikan kearah sesuatu yang lebih mistis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar